BONTANG – Keterbatasan lahan tidak menjadi alasan bagi sekolah di Kota Bontang untuk mengabaikan penghijauan lingkungan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bontang mendorong satuan pendidikan memanfaatkan ruang yang tersedia untuk mengembangkan urban farming.
Pemanfaatan hidroponik dan polybag menjadi pilihan yang ditawarkan untuk mengubah area sekolah yang terbatas menjadi ruang produktif. Selain memperindah lingkungan, aktivitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi para siswa.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Bontang, Muhammad Arfa, mengatakan perkembangan metode pertanian memungkinkan kegiatan bercocok tanam dilakukan tanpa membutuhkan lahan yang luas.
“Sekolah tidak harus memiliki lahan besar untuk mulai bercocok tanam. Hidroponik dan polybag bisa menjadi alternatif karena lebih praktis dan dapat disesuaikan dengan kondisi sekolah,” kata Arfa usai menghadiri peluncuran program Smartani.
Menurut dia, penerapan urban farming dapat dilakukan secara bertahap di lingkungan sekolah. Media tanam yang sederhana membuat metode tersebut relatif mudah disesuaikan dengan ketersediaan ruang.
Program ini juga tidak hanya diarahkan untuk memperbanyak tanaman di lingkungan sekolah. Disdikbud melihat kegiatan bercocok tanam sebagai bagian dari proses edukasi agar siswa mengenal tanaman, memahami proses menghasilkan pangan, sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Arfa berharap keberadaan tanaman di sekolah dapat menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Area yang sebelumnya minim penghijauan bisa dimanfaatkan menjadi ruang hijau sekaligus lokasi kegiatan produktif.
“Harapannya lingkungan sekolah yang sebelumnya kurang hijau bisa menjadi lebih asri. Jadi tanaman yang ada bukan sekadar untuk mempercantik halaman, tetapi juga memberikan manfaat bagi sekolah,” ujarnya.
Ia mencontohkan budidaya kangkung yang dilakukan di SDN 009 Bontang Utara. Tanaman tersebut tidak berhenti sebagai bagian dari penghijauan, tetapi dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
“Contohnya kangkung yang ditanam di SDN 009 Bontang Utara. Hasilnya bisa dipanen dan dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan,” jelasnya.
Menurut Arfa, pemanfaatan urban farming di lingkungan pendidikan sekaligus dapat memperkenalkan konsep ketahanan pangan kepada pelajar. Siswa diharapkan tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga terbiasa dengan pola hidup sehat melalui pengenalan sumber pangan yang ditanam sendiri.
Disdikbud Bontang pun mendorong sekolah menyesuaikan penerapan urban farming dengan kondisi masing-masing, baik melalui hidroponik maupun polybag, sehingga keterbatasan lahan tidak menghalangi upaya menciptakan lingkungan sekolah yang hijau dan produktif.

