Minat Vaksinasi Rendah, Puluhan Ribu Vaksin Pfizer Terancam Kadaluarsa

BONTANG – Rendahnya minat vaksinasi membuat stok dosis vaksin milik Kota Bontang kadaluarsa.

Ribuan dosis vaksin Covid-19 kini mengendap di gudang farmasi Jalan Awang Long Kelurahan Bontang Baru.

Hal itu disampaikan langsung oleh Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Bontang Adi Permana, Jumat (4/2/2022).

Dikatakan Adi Permana, ada tiga jenis vaksin yang tersedia saat ini, yang tersimpan di gudang farmasi. Yaitu Sinovac, Pfizer dan Astrazeneca. Yang mana setiap jenis vaksin itu mampu bertahan paling lama satu tahun.

“Dari tiga jenis itu yang mampu bertahan lama adalah Sinovac,” kata Adi saat di temui di gedung Auditorium 3 Dimensi.

Berbeda dengan Sinovac yang memiliki ketahanan lebih lama. Vaksin jenis Astrazeneca dan pfizer lebih cepat kadaluarsa. Kedua jenis vaksin tersebut memiliki batas maksimal satu hingga enam bulan.

“Saya tidak hapal betul rincinya. Tapi, masing – masing jenis vaksin itu jumlahnya lebih dari 10 ribu dosis,” imbuhnya.

Kata dia, pemicu terancam kadaluarsa pada vaksin tersebut adalah banyaknya distribusi vaksin dari pusat sedangkan kondisi di daerah sendiri minat masyarakat untuk melakukan vaksinasi Covid-19 cenderung pasif.

“Maka dari itu drop vaksin dari pusat untuk sementara kami setop dulu. Soalnya begitu vaksin tersebut datang 30 hari tidak digunakan maka akan kadaluarsa,” ujarnya.

Lebih lanjut, tiap vaksin memiliki penanganan berbeda. Seperti halnya jenis Pfizer dan moderna yang harus berada di suhu -20 derajat celcius. Setelah dua minggu pfizer harus dipindahkan di suhu normal yaitu 2 – 8 derajat celcius.

Tingkat vaksinasi di Bontang yang stagnan menjadi dilema tersendiri bagi tim satgas. Terlebih mengetahui ribuan dosis vaksin jenis Pfizer yang terancam kadaluarsa.

“Kalau dulu kita bingung mau vaksin tapi enggak ada vaksinnya. Kalau sekarang terbalik. Banyak vaksinnya tapi yang mau di vaksin tidak ada,” keluh Adi.

Berbanding terbalik dengan vaksin jenis Pfizer. Alasan pihaknya kini tidak menyalurkan Vaksin Astrazeneca lagi adalah lantaran ribuan vaksin tersebut telah kadaluarsa.

Namun, Adi mengungkapkan berdasarkan instruksi pusat Astrazeneca masih bisa diperpanjang. Tapi pihaknya belum menerima rekomendasi dan petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. 

“Masyarakat tidak perlu panik. Kami tidak menyalurkan lagi jenis Astrazeneca, karena sekarang sedang kami simpan sambil menunggu instruksi pusat,”  imbaunya.

Pun bila nanti ditemukan ada vaksin yang kadaluarsa pihaknya akan memusnahkan sesuai prosedur selaiknya limbah medis pada umumnya. “Tidak sembarangan. Sebelum kita musnahkan kita harus lapor dulu dan kita data,” tandasnya.

Untuk diketahui, per 1 Maret 2022 capaian vaksin berada di angka 86,2 persen untuk dosis pertama, 78,6 persen untuk dosis kedua dan 11 persen untuk dosis ketiga. (red/sel)

%d blogger menyukai ini: