Selisik.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang meluncurkan inovasi Gerakan Kembali Sekolah (GELIS) sebagai upaya mempercepat penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Program ini dirancang untuk menemukan, mendampingi, hingga mengembalikan anak-anak yang putus sekolah atau belum mengakses pendidikan agar kembali memperoleh hak belajarnya.
Inovasi tersebut merupakan implementasi amanat Pasal 31 UUD 1945, Peraturan Daerah Kota Bontang Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, serta mendukung Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah.
Kepala Seksi Kurikulum dan Peserta Didik Dikdas Disdikbud Bontang, Saropah, mengatakan GELIS hadir sebagai respons atas masih adanya anak usia sekolah yang belum mendapatkan layanan pendidikan akibat berbagai faktor, mulai dari persoalan ekonomi, administrasi, kondisi keluarga, kesehatan, hingga disabilitas.
“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Melalui GELIS, kami ingin memastikan tidak ada anak di Kota Bontang yang kehilangan kesempatan meraih masa depan karena tidak bersekolah,” ujarnya.
Berdasarkan Dashboard ATS Kemendikdasmen hasil verifikasi per 4 Juli 2026, Kota Bontang tercatat memiliki 1.619 Anak Tidak Sekolah, terdiri atas 768 anak belum pernah bersekolah, 564 anak putus sekolah, dan 287 anak lulus tetapi tidak melanjutkan pendidikan. Sebanyak 820 anak berada di Kecamatan Bontang Selatan, 630 anak di Bontang Utara, dan 169 anak di Bontang Barat. Dari jumlah tersebut, 653 anak telah diverifikasi, sedangkan 1.009 lainnya masih dalam proses verifikasi lapangan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Disdikbud Bontang, Nuryadi, menjelaskan GELIS mengedepankan kolaborasi pentahelix dengan melibatkan pemerintah, sekolah, keluarga, dunia usaha, dan masyarakat. Data ATS diverifikasi secara berjenjang, kemudian ditindaklanjuti melalui home visit untuk mengidentifikasi penyebab anak tidak bersekolah sekaligus menentukan solusi yang sesuai.
“Melalui GELIS, pemerintah tidak lagi menunggu laporan masyarakat, tetapi aktif mendatangi anak-anak yang membutuhkan pendampingan agar mereka bisa kembali mengenyam pendidikan,” kata Nuryadi.
Ia menambahkan, setiap kasus ditangani sesuai kebutuhan. Anak yang terkendala administrasi akan dibantu bersama Disdukcapil, persoalan ekonomi dikoordinasikan dengan Dinas Sosial dan program bantuan, sedangkan mereka yang memerlukan jalur pendidikan alternatif akan diarahkan ke PKBM atau pendidikan kesetaraan.
Tak hanya mengembalikan anak ke sekolah, GELIS juga menerapkan pendampingan berkelanjutan melalui pemantauan sekolah, wali kelas, RT, dan kelurahan agar anak tetap bertahan hingga menyelesaikan jenjang pendidikannya.
“Dengan program ini harapannya semoga mampu meningkatkan angka partisipasi sekolah. Sekaligus memastikan tidak ada lagi anak di Kota Bontang yang kehilangan hak atas pendidikan,” imbuhnya.

