Tanamkan Pendidikan Agama Sejak Dini, Disdikbud Kutim Uji Coba Pembelajaran Kitab Suci di Lima SD

selisik
2 Min Read

Kutai Timur – Waktu tumbuh kembang anak memiliki tantangan tersediri. Mulai dari balita, anak-anak, masa remaja hingga dewasa. Di masa anak mulai membaur dengan lingkungan beragam godaan dapat berdampak terhadap kehidupannya. Maka penting ilmu agama diberikan sejak dini.

“Apabila tidak memiliki ilmu agama yang kuat sejak dini, dikhawatirkan bisa terjerumus kepada hal-hal yang kurang baik. Maka melalui pembelajaran ilmu agama dapat memberikan batasan terhadap anak untuk tidak berprilaku buruk,” beber Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kutai Timur Mulyono.

BACA JUGA:  Serahkan Bonus Atlet dan Pelatih di Popda VXI, Wabup Kutim: Terus Pertahankan Prestasi

Menurut Mulyono, salah satu langkah yang ditempuh Disdikbud Kutim ialah menerapkan pembelajaran kitab suci. Khususnya bagi pelajar Sekolah Dasar (SD) di lima sekolah, yang saat ini sedang dilaksanakan uji coba.

“Dengan tambahan waktu belajar kitab suci ini selama dua jam, diharapkan waktu mereka bisa lebih bermanfaat,” ujarnya belum lama ini.

Mulyono menyebut, program akan diujicoba selama satu setengah semester. Kegiatan ini menjadi pilot project, sebelum diterapkan di satuan pendidikan jenjang sekolah dasar di Kutim.

BACA JUGA:  Peringati Hari Ibu, DP3A Kutim Gelar Berbagai Lomba

“Kita ambil pantau animo orang tua murid, sekolah dan masyarakat, supaya bisa diterapkan di seluruh sekolah nantinya,” ucapnya.

Menurunkan interaksi anak dengan gatget juga menjadi salah satu tujuan dari pelaksanaan uji coba mata pelajaran (Mapel) kitab suci ini di sekolah. Sebab, tidak sedikit pengaruh buruk disebabkan dari anak yang melihat tanyangan buruk di smarphone. Seperti perkataan kasar hingga konten dewasa.

BACA JUGA:  Disdikbud Kutim Gelar Pelatihan Pastry dan Bakery Bagi Puluhan Ibu-ibu

Di era perkembangan teknologi maju sekarang ini, banyak anak-anak yang banyak menghabiskan waktunya untuk bermain handphone. Membuat tidak focus terhadap pelajaran disekolahnya. “Anak-anak mulai enggan untuk belajar. Cenderung lebih banyak bermain game,” tutupnya. (Adv)

Share This Article