Karhutla Kaltim Makin Mengganas, 1.260 Hektare Lahan Ludes Terbakar

selisik
6 Min Read

Samarinda – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kalimantan Timur (Kaltim) di tengah kondisi cuaca yang kering. Dalam beberapa pekan terakhir, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah dan melahap lahan dalam skala cukup luas.

Sebaran titik kebakaran pun hampir merata di berbagai kabupaten dan kota. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim per Sabtu (22/8/2026), tercatat 430 titik karhutla terjadi di 10 kabupaten dan kota. Total luas lahan yang terbakar mencapai 1.260,92 hektare.

Data tersebut menunjukkan besarnya dampak kebakaran yang terjadi sepanjang periode kering. Meski jumlah titik api tidak selalu berbanding lurus dengan luasan lahan terbakar, sejumlah daerah tercatat memiliki konsentrasi kebakaran yang cukup tinggi. Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terluas, yakni 369,88 hektare dari 47 titik kejadian.

Sementara itu, Kutai Barat (Kubar) berada di posisi berikutnya dengan luas lahan terbakar mencapai 337,17 hektare dari 71 titik. Adapun Kabupaten Paser menjadi daerah dengan jumlah titik karhutla terbanyak. Tercatat, 105 titik kebakaran dengan luas lahan yang terbakar mencapai 268,68 hektare.

Di bawah Paser, terdapat Kutai Barat dengan 71 titik, Samarinda dengan 69 titik, dan Kukar sebanyak 47 titik. Pelaksana Harian (Plh) Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim, Sugeng Priyanto, mengatakan, karhutla saat ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetapi telah ditemukan di hampir seluruh kabupaten dan kota di Kaltim.

BACA JUGA:  Warga Kaltim Diminta Waspadai ISPA Akibat Asap Karhutla

“Saya dapat laporan yang intinya semua itu ada, hanya luasannya dan skalanya berbeda-beda,” ujar Sugeng saat dikonfirmasi, Minggu (23/8/2026).

Menurut dia, wilayah dengan cakupan administrasi yang luas menjadi salah satu daerah yang saat ini cukup banyak menghadapi kebakaran. “Yang dominan atau yang tinggi itu sementara kami pantau wilayah Berau, wilayah Kutim, wilayah Kukar,” tegasnya.

Kebakaran yang terjadi tidak seluruhnya berada jauh dari aktivitas masyarakat. Di sejumlah lokasi, api justru membakar lahan yang berada di sekitar kawasan yang dimanfaatkan warga. Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan lebih cepat untuk mencegah api meluas.

Sugeng mengatakan, khusus di Kabupaten Kukar, sekitar 182 hektare dari lahan yang terbakar merupakan kawasan milik masyarakat.

Situasi di lapangan juga tidak mudah bagi petugas pemadam. Luasnya wilayah yang terbakar ditambah kondisi medan membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan sumber daya cukup besar.

Menurut Sugeng, terdapat sejumlah kendala yang dihadapi petugas ketika menuju titik kebakaran. “Kendala secara umum pertama adalah akses. Titik yang terjadi kebakaran itu untuk pemadaman, kedua akses peralatan enggak bisa tembus sampai ke titik tersebut,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Ribuan Hektare Lahan di Kaltim Terbakar Akibat Musim Kemarau

Persoalan akses tersebut membuat kendaraan dan peralatan pemadam tidak selalu bisa langsung mendekati lokasi api.

Petugas kemudian harus melakukan penanganan dengan sumber daya yang tersedia di sekitar titik kebakaran. Tantangan lainnya adalah ketersediaan air.

Pada kebakaran dengan luasan cukup besar, petugas harus mencari sumber air yang dapat digunakan untuk mendukung proses pemadaman. Kondisi ini menjadi semakin sulit apabila lokasi kebakaran berada jauh dari sumber air atau sulit dijangkau.

“Ketiga tampungan air. Dalam arti untuk pemadaman di tempat itu kan sulit, otomatis kita mengambil dari (sumber air). Ditambah lagi dengan keterbatasan personel dan peralatan ketika memang tempat itu sangat luas,” keluhnya.

Meskipun luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 1.200 hektare, BPBD Kaltim menyebut dampak kabut asap terhadap aktivitas masyarakat dan kesehatan sejauh ini belum menunjukkan kondisi yang signifikan. “Sementara ini belum terbaca secara signifikan,” kata Sugeng.

Namun, kondisi tersebut tidak membuat penanganan karhutla dihentikan. Upaya pencegahan dan pemadaman tetap dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama di wilayah yang memiliki banyak titik api.

BPBD Kaltim juga telah menerima permohonan bantuan logistik dari BPBD Kukar untuk mendukung penanganan karhutla. Bantuan tersebut di antaranya berupa masker dan selang yang dibutuhkan petugas di lapangan.

BACA JUGA:  Polda Kaltim Tetapkan 3 Tersangka Kasus Karhutla di Kukar dan Berau

“BPBD kabupaten Kukar sudah meminta bantuan ke kami. Suratnya sudah masuk dan barangnya sudah kami persiapkan, ada menyediakan maskernya. Kebetulan kami ada selang dan mereka perlukan. Ada permohonan di BPBD, insyaallah akan segera diambil,” pungkasnya.

Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kaltim, berikut sebaran titik dan luas lahan yang terbakar:

  • Samarinda: 69 titik, 90,00 hektare.
  • Balikpapan: 19 titik, 13,93 hektare.
  • Bontang: 9 titik, 13,51 hektare.
  • Kutai Kartanegara: 47 titik, 369,88 hektare.
  • Kutai Barat: 71 titik, 337,17 hektare.
  • Kutai Timur: 30 titik, 40,25 hektare.
  • Berau: 38 titik, 86,44 hektare.
  • Mahakam Ulu: 0 titik.
  • Paser: 105 titik, 268,68 hektare.
  • Penajam Paser Utara: 42 titik, 41,07 hektare.

Dengan total 430 titik dan luas terbakar mencapai 1.260,92 hektare, karhutla menjadi persoalan yang masih harus diwaspadai di tengah kondisi cuaca kering di Kaltim. Angka tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Akses menuju lokasi, ketersediaan air, peralatan, hingga jumlah personel menjadi faktor penting agar kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas.

(Kompas.com)

TAGGED:
Share This Article