Disdikbud Bontang Dorong Transformasi Guru Jadi Pendidik Humanis di Era Kurikulum Merdeka

selisik
3 Min Read

Bontang – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, Abdu Safa Muha, mendorong seluruh guru di Bontang untuk bertransformasi menjadi pendidik yang lebih humanis dan berorientasi pada peserta didik. Langkah ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran mendalam (deep learning) dan penghormatan terhadap karakter individu siswa.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdu Safa menyusul adanya kasus perselisihan antara seorang murid dan kepala sekolah yang diduga menampar siswa karena ketahuan merokok. Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan fisik sudah tidak relevan lagi dalam konteks pendidikan modern.

“Sekarang bukan zamannya lagi mendidik anak dengan kekerasan. Hakikat utama dari pembelajaran mendalam adalah memuliakan peserta didik,” ujarnya, Senin (20/10/2025).

BACA JUGA:  Audit Standarisasi LPKRA Jadi Tahap Penting SDN 002 Bontang Selatan Menuju Akreditasi Perlindungan Anak

Menurut Safa Muha, guru di era pendidikan modern tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai fasilitator dan pendamping dalam proses belajar. Guru dituntut mampu memahami karakter, latar belakang, dan kondisi psikologis peserta didik sebelum mengambil langkah pembinaan.

“Guru itu bukan hanya pendidik, tapi juga harus punya ‘resep’, seperti dokter. Kalau anak ini dianggap bermasalah, buatlah resepnya, lalu kirim ke orang tuanya,” ucapnya.

Ia menilai kolaborasi antara guru dan orang tua menjadi kunci penyelesaian persoalan perilaku siswa. Dengan komunikasi yang baik, guru dapat menyampaikan kondisi anak secara objektif, sementara orang tua turut mengambil peran dalam mencari solusi terbaik.

BACA JUGA:  Disdikbud Bontang dan TNI Bentuk Karakter Pelajar Lewat Pelatihan Kepemimpinan OSIS

“Guru menyampaikan kondisi sang anak, sehingga orang tuanya juga punya tanggung jawab untuk mencarikan jalan keluar,” tambahnya.

Lebih jauh, Safa Muha menegaskan bahwa penegakan disiplin di sekolah seharusnya dilakukan melalui pendekatan edukatif dan empatik, bukan dengan kekerasan. Langkah-langkah seperti memberikan catatan perilaku kepada orang tua dinilai lebih efektif dalam menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab siswa.

“Guru bisa menuliskan catatan atau laporan kecil kepada orang tua. Dengan begitu, orang tua tahu apa yang salah dari perilaku anaknya, dan bisa memperbaikinya bersama,” jelasnya.

BACA JUGA:  Siswi SMPN 4 Bontang Juara 1 Swarga Bara Trail Run, Disdikbud Minta Sekolah Lain Dukung Bakat Siswa

Safa Muha berharap seluruh tenaga pendidik di Bontang mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas kekerasan, sehingga nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme guru dapat terwujud secara nyata.

“Kalau semua pihak memahami esensi Kurikulum Merdeka, maka pendidikan di Bontang akan melahirkan generasi yang beradab, cerdas, dan berkarakter,” pungkasnya.

Share This Article