Pertamina Buka Suara Soal Pertalite Bontang: Kuota Tak Dipangkas, Distribusi Diatur

selisik
4 Min Read

Bontang – PT Pertamina Patra Niaga memastikan kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite untuk Kota Bontang, Kalimantan Timur, tidak mengalami pengurangan. Untuk mengatasi persoalan antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Pertamina akan mengubah pola distribusi menjadi dua kali dalam sehari.

Branch Manager (SBM) Kaltimut III Fuel PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Bagus Prabowo, mengatakan pengiriman Pertalite nantinya dilakukan pada pagi dan sore hari.

Pengiriman pada pagi hari akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan penjualan pada hari yang sama, sedangkan pengiriman sore disiapkan untuk kebutuhan penjualan pada hari berikutnya.

“Nanti untuk sementara kita lakukan pengiriman dua kali, pagi untuk dijual hari H dan sore untuk dijual di hari berikutnya,” kata Hermawan.

Langkah tersebut dilakukan setelah antrean kendaraan untuk mendapatkan Pertalite kembali menjadi sorotan di Bontang. Kondisi itu sebelumnya dibahas dalam rapat pembahasan antrean BBM bersama pemerintah di ruang DPMPTSP Bontang, Jumat (28/8/2026).

Wakil Ketua Komisi B DPRD Bontang, Winardi, mempertanyakan pola distribusi Pertalite ke sejumlah SPBU. Menurutnya, SPBU disebut telah melakukan deposit untuk pemesanan sekitar 16 kiloliter, namun pasokan yang diterima hanya sekitar 8 kiloliter.

BACA JUGA:  Antrean Pertalite Mengular, Bontang Siapkan Penerapan Ganjil-Genap Roda Empat

Selain jumlah pasokan, waktu kedatangan BBM juga menjadi sorotan. Pertalite yang sebelumnya disebut dijadwalkan tiba sekitar pukul 08.00 Wita, dalam kondisi tertentu baru diterima pada sekitar pukul 16.00 Wita.

“Mentang-mentang Pertamina yang punya jadi seenak-enaknya mengatur. Benahi itu distribusinya,” tegas Winardi.

Hermawan kemudian menjelaskan bahwa pengiriman BBM tidak selalu dilakukan sesuai jumlah Delivery Order (DO) yang diajukan SPBU. Jika SPBU mengajukan DO sebesar 16 kiloliter, Pertamina dalam kondisi tertentu hanya mengirim sekitar 8 kiloliter.

Menurut Hermawan, pengaturan tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan Pertalite hingga akhir tahun. Kebijakan itu juga mempertimbangkan adanya peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite setelah selisih harga kedua jenis BBM tersebut semakin jauh.

“Yang kami khawatirkan, jika semua SPBU minta ditambah kuotanya, pastinya akan cepat habis. Apalagi peralihan pengguna Pertamax ke Pertalite juga cukup signifikan, sehingga kami harus mengatur kuotanya,” jelasnya.

BACA JUGA:  Kendaraan Nopol Luar Kalimantan Diminta Mutasi, Rustam: Agar Kuota BBM Bertambah

Hermawan menegaskan pengaturan jumlah pengiriman tersebut bukan berarti kuota Pertalite untuk Bontang dikurangi. Kuota tahunan Bontang telah ditetapkan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sebesar 24.344 kiloliter.

Dari kuota tersebut, rata-rata sekitar 2.022 kiloliter Pertalite dialokasikan setiap bulan untuk didistribusikan ke seluruh SPBU di Bontang.

Pada Juni 2026, realisasi penyaluran tercatat sekitar 2.000 kiloliter. Kekurangan dari target tersebut kemudian disesuaikan pada bulan berikutnya dengan penyaluran sekitar 2.040 kiloliter.

“Adapun di Juni kami hanya menyuplai 2.000, kami suplai berikan tambahan di bulan berikutnya menjadi sekitar 2.040 kiloliter. Ini tetap sesuai,” terangnya.

Hermawan juga menjelaskan kuota yang tidak tersalurkan kepada SPBU tertentu tidak otomatis hilang. Kuota tersebut dapat dialihkan ke SPBU lain yang masih beroperasi.

Hal itu termasuk ketika terdapat SPBU yang dikenai penghentian sementara atau suspend akibat pelanggaran transaksi barcode yang tidak sesuai dengan nomor pelat kendaraan.

BACA JUGA:  Kendaraan Nopol Luar Kalimantan Diminta Mutasi, Rustam: Agar Kuota BBM Bertambah

“Dalam aturan memang ketat. Di SPBU yang terkena sanksi itu kedapatan menjual Pertalite ke pemilik mobil tidak sesuai barcodenya,” ungkapnya.

Selain persoalan distribusi, Hermawan menyebut ketersediaan armada pengangkut BBM turut menjadi bagian dari pengaturan pengiriman. Truk tangki yang digunakan Pertamina melayani tujuh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Wilayah dengan kebutuhan terbesar berada di Samarinda dan Kutai Kartanegara. Sementara Bontang dan Kutai Timur juga termasuk dalam wilayah pelayanan distribusi tersebut.

Pertamina berharap perubahan pola pengiriman menjadi dua kali sehari dapat membantu menjaga ketersediaan Pertalite di SPBU sekaligus mengatasi persoalan waktu kedatangan BBM yang sebelumnya menjadi sorotan.

Dengan mekanisme tersebut, Pertamina tetap mempertahankan total kuota Pertalite yang telah ditetapkan untuk Bontang dan menyalurkannya secara bertahap sesuai kebutuhan.

TAGGED:
Share This Article