Bontang – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang menggelar rapat koordinasi sebagai tindak lanjut arahan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, terkait fenomena siswa yang mengekspresikan diri di luar stereotip gender di Autis Centre, Selasa (4/11/2025).
Rapat dihadiri perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB), Satpol PP, Persatuan Psikologi Bontang, PKK, serta Kementerian Agama.
Sebagai langkah awal, Kepala Disdikbud Kota Bontang, Abdu Safa Muha, mengatakan pentingnya pengumpulan data yang akurat sebelum melakukan pembinaan karakter.
“Langkah pertama adalah memiliki parameter penilaian yang jelas, agar tidak muncul masalah baru terkait pelabelan anak-anak sebagai gemulai, tomboy, atau macho,” ujarnya.
Abdu menegaskan, pembinaan akan dilakukan secara hati-hati dan berdasarkan data yang telah terverifikasi. Pihaknya ingin memastikan seluruh informasi bersifat rahasia dan diterima dengan baik oleh orang tua maupun anak-anak.
Sementara itu, Psikolog Ilham menekankan pentingnya pendekatan sensitif dalam pembinaan.
“Fokus kami adalah mendukung pengembangan karakter dan ekspresi anak tanpa memengaruhi orientasi seksual mereka,” katanya.
Disdikbud menyatakan akan mengadakan rapat lanjutan setelah data lengkap terkumpul, sebagai dasar merumuskan program pembinaan yang tepat.

