Satu Keluarga di Kalideres Sempat Makan Sebelum Meninggal

selisik
2 Min Read

Selisik.id – Tim forensik gabungan menyimpulkan dalam proses penyelidikan mengatakan bahwa pihaknya menemukan feses di tubuh jenazah anggota keluarga tersebut.

Sehingga penyebab kematian satu keluarga di Kalideres, Jakarta Barat, bukan karena kelaparan ataupun sengaja berhenti makan dan minum.

“Kemudahan ditemukan feses. Di tubuh Budyanto dan Dian itu ada feses. Pada jenazah ini ditemukan sisa makanan belum terbuang,” ujar Dokter forensik di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Ade Firmansyah dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, seperti dikutip dari Republika.co.id, Sabtu (10/12/2022).

Dengan adanya temuan feses di tubuh dua anggota keluarga tersebut menandakan bahwa mereka berdua sempat makan sebelum meninggal dunia.

BACA JUGA:  Kapal Selam Wisata Titanic Hilang di Samudera Atlantik

Adapun kandungan yang ada dalam feses tersebut adalah kandungan karbohidrat dan serat-serat makanan. Diduga mereka yang mereka makan adalah makanan pokok, nasi.

“Setelah makan terakhir meninggal dunia. Kami bisa menyebutkan bahwa yang bersangkutan sempat makan paling lama 3 hari sebelum meninggal dunia,” tutur Ade.

Selain itu, Polda Metro Jaya beserta tim gabungan mengungkapkan penyebab dan urutan kematian satu keluarga yang jasadnya ditemukan di Perumahan Kompleks Citra Garden 1 Extension, Kalideres, Jakarta Barat, pada Kamis (10/11/2022) lalu. Hal itu diketahui melalui penyelidikan berbasis Scientific Crime Investigation.

BACA JUGA:  Sidang Perdana Tragedi Kanjuruhan Digelar Online 16 Januari

“Urutan kematian sebagai berikut. Pertama Rudyanto akibat permasalahan saluran cerna,” ujar dokter forensik Asri M. Pralebda.

Kemudian, kata Asri, korban kedua yang meninggal adalah istri dari Rudyanto yaitu Reni Margaretha Gunawan. Dari hasil pemeriksaan Reni meninggal karena menderita sakit kanker payudara.

Lalu korban ketiga yang meninggal adalah Budyanto karena serangan jantung, dan terakhir Dian disebabkan oleh gangguan pernapasan.

Selain karena sakit, keempat korban juga diduga ada kepasrahan secara psikologi menghadapi kematian setelah sempat berusaha tapi tak membuahkan hasil.

BACA JUGA:  Pekerja Tambang di Kutai Timur Tewas Terlindas Bulldozer

Ditambah keluarga Kalideres ini telah mengasingkan diri dari kerabat-kerabatnya selama dua dekade terakhir. Akibat sangat lama tidak ada komunikasi, maka meminta pertolongan dari keluarga kerabatnya menjadi berat.

“Mengasingkan diri mereka sejak lama sekitar 20 tahunan. Sehingga komunikasi dengan kerabat sudah terputus. Ini menyebabkan mereka sungkan dan enggan untuk meminta pertolongan atau dukungan,” tutur Ketua Tim Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Reni Kusumawardhani.

TAGGED:
Share This Article