Prevalensi Stunting Kaltim Hanya Turun 0,6 Persen dalam Tiga Tahun

selisik
1 Min Read

Samarinda – Angka prevalensi stunting di Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2024 tercatat masih tinggi, yakni 22,2 persen atau hanya mengalami penurunan 0,6 persen sejak 2021.

Meskipun telah dilakukan berbagai upaya selama tiga tahun dengan anggaran ratusan miliar dan puluhan program lintas sektor, hasil yang dicapai belum menunjukkan perubahan signifikan.

DPRD Kaltim mengungkapkan bahwa terdapat persoalan struktural yang belum tersentuh, mulai dari pendataan, intervensi lapangan, hingga koordinasi antardaerah.

BACA JUGA:  Kader Posyandu Dinilai Berperan Bantu Tangani Stunting, Heri Keswanto Minta Tambahan Anggaran Insentif

Melansir Kompas.com, Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, mengakui bahwa kondisi ini merupakan alarm keras bagi provinsi tersebut.

“Kita harus jujur, posisi kita belum aman. Angka 22,2 persen ini masih terlalu tinggi untuk sebuah provinsi seperti Kaltim,” ujarnya pada Senin (15/12/2025).

Ia menekankan pentingnya percepatan intervensi dimulai dari fase kritis, yaitu 1.000 hari pertama kehidupan.

BACA JUGA:  10 Upaya Kaltim Percepat Penurunan Stunting

Pemeriksaan ibu hamil, skrining kekurangan energi kronis (KEK), pemberian makanan tambahan, dan edukasi perubahan perilaku harus diperkuat.

“Jangan sampai ada ibu hamil yang tidak terpantau. Kalau pemeriksaan tidak rutin, kita tidak akan tahu faktor risikonya,” tegas Seno.

Pemprov Kaltim juga akan memperkuat rapat koordinasi bulanan antardaerah, dengan menekankan bahwa laporan kinerja tidak boleh berhenti di meja administrasi.

BACA JUGA:  Pj Gubernur Kaltim Soroti Peningkatan Angka Stunting di Bontang

“Setiap rapat harus menghasilkan tindakan. Ukur tiap bulan dan laporkan apa yang masih kurang,” tambahnya.

TAGGED:
Share This Article