Polemik Mobil Dinas Rp8,5 Miliar, Golkar Minta Gubernur Kaltim Dengar Suara Publik

selisik
2 Min Read

Selisik.id – Sekjen Golkar Muhammad Sarmuji mengaku sudah meminta penjelasan dari Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Ma’sud buntut viralnya pengadaan anggaran mobil dinas Rp 8,5 miliar yang belakangan menuai polemik. Terlebih setelah Rudy menjelaskan bahwa mobil itu untuk menjaga Marwah Provinsi Kaltim.

Sarmuji meminta Rudy mendengarkan suara publik yang mengkritik pengadaan mobil mewah itu.

“Kami sudah berkomunikasi dengan Gubernur Kaltim. Kami meminta untuk lebih mendengarkan suara publik di tengah efisiensi,” kata Sarmuji kepada wartawan, Jumat (27/2/2026) dilansir Liputan6.com.

BACA JUGA:  KPK Soroti Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Gubernur Kaltim

Sarmuji memahami alasan pengadaan mobil itu mengingat medan jalan di Kaltim memang sulit. Namun dia mengingatkan anggaran yang diajukan juga harus bijak dan diukur dengan kondisi rakyat.

“Memang anggaran ini diketok tahun 2024 tetapi untuk mobil dengan spek seperti itu harus inden. Kalimantan Timur medannya berat dengan luas wilayah seperti luasan pulau Jawa. Tapi apapun kita harus mengukur dengan kondisi rakyat kita, bukan dengan ukuran pribadi,” kata dia.

Untuk diketahui, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud buka suara soal anggaran Rp 8,5 miliar untuk pengadaan mobil dinas. Mobil dinas yang dibeli adalah Range Rover 3.0 Autobiography. Dia mengatakan pengadaan dilakukan sesuai aturan. Sekaligus untuk menjaga marwah Kaltim.

BACA JUGA:  Sekda Kaltim Angkat Bicara, Medan Ekstrem Jadi Alasan Mobil Dinas Rp8,5 Miliar

“Masa iya kepala daerahnya pakai mobil alakadarnya, jangan dong. Jaga marwahnya Kaltim, marwahnya masyarakat Kalimantan Timur,” ucap Rudy.

Sementara Sekda Kaltim, Sri Wahyuni, mengatakan kendaraan operasional tersebut ditujukan untuk menjangkau wilayah Kaltim yang punya karakteristik geografis ekstrem. Dia mengatakan mobil dinas gubernur harus bisa melalui medan berat di Kaltim.

“Pak Gubernur berkomitmen untuk memantau langsung setiap permasalahan di pelosok. Contohnya saat kunjungan ke Bongan, beliau ingin melihat sendiri kondisi jalan yang dikeluhkan warga. Untuk mencapai titik-titik krusial dengan medan seberat itu, dibutuhkan kendaraan yang andal dan representatif,” ujar Sri Wahyuni.

TAGGED:
Share This Article