Selisik id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang mengedepankan pendekatan yang komunikatif dalam mendampingi 31 siswa yang teridentifikasi memiliki ekspresi gender.
Pendampingan dilakukan dengan melibatkan orang tua dan pihak sekolah agar setiap anak tetap memperoleh hak pendidikan sekaligus mendapatkan pembinaan sesuai kebutuhannya.
Kepala Disdikbud Bontang, Abdu Safa Muha, menilai keterlibatan keluarga menjadi faktor penting dalam proses pendampingan. Karena itu, setiap penanganan dilakukan secara personal dengan mengedepankan komunikasi antara sekolah dan orang tua untuk menyamakan pemahaman serta menyusun langkah pembinaan bersama.
Maka itu, pihaknya terlebih dahulu akan mengundang orang tua ke sekolah untuk berdiskusi mengenai kondisi anak dan menentukan pola pendampingan yang tepat.
“Kami ingin menyadarkan para orang tua bahwa perubahan ke arah yang lebih baik itu sangat mungkin terjadi. Hal terpenting adalah adanya kemauan dan kebersamaan dari pihak keluarga untuk terus mendampingi anak mereka,” ujar Abdu, Senin (13/7/2026).
Selain melibatkan keluarga, pendampingan juga dilakukan bersama kepala sekolah dan pemerintah daerah. Menurut Abdu, sinergi tersebut mulai menunjukkan hasil positif karena sebagian besar siswa yang didampingi mengalami perkembangan yang lebih baik.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kasus yang memerlukan perhatian lebih karena dipengaruhi persoalan di lingkungan keluarga.
Oleh sebab itu, Disdikbud memastikan pendampingan tidak berhenti pada pertemuan awal, melainkan dilakukan secara berkelanjutan agar perkembangan anak dapat terus dipantau.
“Kami tidak akan berhenti setelah orang tua dipanggil. Proses ini berkelanjutan demi memastikan anak-anak kita tetap nyaman belajar dan bisa tumbuh dengan baik di lingkungan sekolahnya,” tutupnya.

