Pemkot Bontang Gandeng Jurnalis Wujudkan Kota Layak Anak 

SELISIK.ID, Bontang– Guna mewujudkan Bontang menjadi kota layak anak, kali ini Pemkot Bontang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) menggandeng para jurnalis. 

Kegiatan tersebut mengusung tema “Menuju media yang ramah anak untuk mewujudkan Bontang kota layak anak” digelar di ruang Auditorium 3 Dimensi, Senin (18/3/2019).

Hadir sebagai pemateri dari Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Yovanda Noni, Kepala Bidang (Kabid) Partisipasi Media Elektronik dan Media Sosial, Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Supriyadi, dan Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar.

Plt DPPKB Bontang, Safa Muha menuturkan, karena tren tingkat kekerasan pada anak di Bontang mengalami kenaikan, baik itu terlapor atau tidak. Dia meminta para jurnalis Bontang dapat menyejukkan berbagai pemberitaan tentang dinamika mereka, demi menjaga harkat dan martabat anak.

“Tapi selama di Bontang, menurut saya, berita yang disampaikan masih berpihak pada anak,” kata Safa.

Safa menambahkan, media masa adalah mitra yang sangat penting. Ia pun berharap para jurnalis dapat menyelamatkan bangsa dengan memberikan informasi yang berkualitas.

Sementara itu, mewakili Wali Kota Bontang, Staf Ahli Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Sofyansyah menyampaikan, masih ada saja pemberitaan yang mengangkat tentang gender dan anak begitu kurang cermat menggunakan kata. Itu dikarenakan mereka hanya ingin menghasilkan berita, tetapi tidak memikirkan nasib anak yang diberitakan.

Kendati demikian, pihaknya tetap mengapresiasi media khususnya yang menampilkan masalah perlindungan perempuan dan anak serta yang bersinergi menjalankan amanah undang-undang dengan peran menyebarkan informasi dan edukasi yang bermanfaat bagi anak.

Setelah resmi dibuka, Yovanda mendapat kesempatan pertama. Dia memaparkan, hingga saat ini memang masih kurang tanyangan televisi yang mendidik dan ramah anak. Sejatinya tontonan sekarang seakan memaksa anak menikmati acara yang tidak sesuai dengan usia mereka. Bahkan yang lebih parahnya, adegan kekerasan dan pornografi masih mewarnai siaran televisi saat ini.

“Tanpa sadar, bila tayangan tidak mendidik itu terus terpapar tentunya risikonya mereka pasti akan meniru apa yang ditonton,” ujarnya.

Wanita yang juga jurnalis ini pun meminta media sekarang harus memenuhi hak anak mendapatkan informasi yang layak dan memiliki dampak positif terhadap sikap, perilaku, dan pola pikir anak. Serta harus mengandung nilai edukasi dan pesan moral.

Usai Yovanda, dilanjutkan Supriyadi. Dia pun menuturkan hal yang sama, sejatinya dalam mewujudkan kota layak anak, semuanya sudah harus terintegrasi antara pemerintah, masyarakat, organisasi, dan tentunya media. Itu dikarenakan semua memiliki peran dalam mewujudkan kesejahteraan anak.

“Bila media menginput berita positif tentu semua akan menginformasikan postif. Begitu pun sebaliknya. Maka dari itu, dengan sosialisasi ini diharapkan media dapat menyaring berita demi menjaga kesejahteraan anak,” harapnya.

Sementara, Ahmad Djauhar yang menjadi pemateri terakhir mengungkapkan, terkait perlindungan anak, dewan pers telah menetapkan pedoman pemberitaan ramah anak. Sejatinya anak merupakan tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa sehingga perlu dilindungi harkat dan martabat mereka.

“Dengan dilaksanakannya sosialisasi ini diharapkan pula peran serta wartawan Indonesia dapat menjaga segala bentuk pemberitaan negatif tentang anak,” pintanya. (ver)