BONTANG – Pemerintah Kota Bontang menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik jenjang PAUD, TK, SD, hingga SMP sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi kualitas udara yang terdampak kabut asap.
Kebijakan tersebut mulai diberlakukan pada Kamis (17/9/2026) hingga Sabtu (19/9/2026). Selanjutnya, kondisi udara dan cuaca akan kembali dievaluasi untuk menentukan pola pembelajaran pada pekan berikutnya.
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Bontang, Saparuddin, mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kesehatan dan keselamatan peserta didik.
“Untuk sementara PJJ kita terapkan sampai Sabtu. Setelah itu akan kita evaluasi lagi berdasarkan perkembangan kondisi udara dan cuaca,” ujar Saparuddin.
Menurutnya, pelaksanaan PJJ menjadi langkah antisipatif agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengharuskan siswa beraktivitas di lingkungan sekolah selama kondisi udara masih menjadi perhatian.
Sementara terkait mekanisme pembelajaran, Disdikbud memberikan ruang kepada masing-masing satuan pendidikan untuk menyesuaikan metode belajar dengan kondisi dan kesiapan guru maupun peserta didik.
Saparuddin mengatakan belum dapat memastikan apakah pembelajaran tatap muka sudah bisa kembali dilaksanakan pada Senin (21/9/2026). Keputusan tersebut akan melihat hasil pemantauan kondisi udara hingga akhir pekan.
“Kalau Senin kondisi udara sudah membaik, pembelajaran tatap muka tentu bisa kembali dilaksanakan. Namun, jika kondisinya masih belum memungkinkan, PJJ dapat diperpanjang,” jelasnya.
Bagi sekolah yang pada Kamis (17/9) masih melaksanakan pembelajaran secara tatap muka, Disdikbud meminta pihak sekolah memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Apabila situasi dinilai tidak mendukung kegiatan belajar, siswa dapat dipulangkan dan pembelajaran dilanjutkan secara daring.
“Saya sudah meminta sekolah yang masih melaksanakan pembelajaran tatap muka hari ini untuk mempertimbangkan kondisi siswanya. Jika diperlukan, siswa bisa dipulangkan dan pembelajaran dilanjutkan secara daring,” katanya.
Ia menambahkan, penerapan pembelajaran daring bukan merupakan hal baru bagi satuan pendidikan di Bontang. Setiap sekolah telah memiliki mekanisme pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan situasi di lapangan.
“Pembelajaran daring sudah menjadi bagian dari mekanisme pendidikan. Karena itu, untuk teknis pelaksanaannya kami serahkan kepada masing-masing sekolah sesuai kesiapan guru dan siswa,” ungkapnya.
Perhatian terhadap kondisi udara juga datang dari sejumlah sekolah jenjang SMA dan SMK di Bontang. Meski pengelolaan SMA dan SMK berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, komunikasi terkait perkembangan kondisi udara tetap dilakukan.
Saparuddin menyebut sejumlah kepala sekolah SMA bahkan telah menghubunginya untuk berkoordinasi mengenai situasi yang terjadi di Bontang.
“Ada beberapa kepala sekolah SMA yang menghubungi saya melalui WhatsApp. Mereka juga terus mengikuti perkembangan kondisi yang terjadi,” ujarnya.
Disdikbud berharap kondisi udara segera kembali membaik sehingga aktivitas pembelajaran dapat dilaksanakan secara normal dan peserta didik dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka.
“Kami berharap kondisi udara segera membaik agar aktivitas belajar mengajar bisa kembali berjalan normal,” tandasnya.

