Ketua DPRD Bontang Minta Pelaku Pencabulan Dikebiri

Bontang – Ketua DPRD Bontang, Andi Faizal Sofyan Hasdam mengutuk perbuatan Lo (45) yang diduga melakukan pencabulan terhadap anak tirinya yang masih berusia lima tahun.

Menurutnya, tindakan tersebut  merupakan hal yang tidak patut untuk ditiru. Olehnya, politikus Golkar ini meminta penegak hukum untuk memberikan hukuman yang seberat-beratnya. Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Agar menjadi contoh bagi seluruh masyarakat. Sehingga kejadian ini tidak terulang lagi di Kota Bontang.

“Kalau Undang-undang kebiri sudah berlaku, kebiri saja,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Faiz ini mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang masih terbilang tinggi di Bontang harus  menjadi perhatian seluruh pihak. Untuk kemudian, bersama-sama menekan dan mencegah agar kasus-kasus tersebut tidak terjadi lagi.

BACA JUGA:  Kasus Dugaan Pencabulan di Bontang, Tersangka Bantah Keterangan Korban

“Saya minta warga melapor jika melihat tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Pemerintah juga harus semakin giat melakukan sosialisasi dan melindungi korban kekerasan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bahauddin mengatakan, sampai saat ini korban pencabulan masih mengalami trauma dan masih dalam masa pemulihan psikologis.

Mantan Kepala Dinas Kesehatan ini pun belum bisa memastikan berapa lama korban dan ibunya berada di rumah aman.

“Kalau dia sudah stabil boleh pulang. Sekarang belum masih trauma,” ucapnya.

Sebelumnya, LO (45) dibekuk Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bontang. Ia dibekuk polisi karena diduga mencabuli anak tirinya yang masih berusia lima tahun.

BACA JUGA:  Bocah 5 Tahun Dicabuli Ayah Tiri

Kapolres Bontang, AKBP Yusep Dwi Prastiya melalui Kasat Reskrim, IPTU Bonar Hutapea mengungkapkan, kasus pencabulan ini terungkap saat korban yang dimandikan oleh ibu kandungnya merasakan sakit pada bagian belakang tubuhnya.

“Ibu korban melapor ke pihak berwajib dan polisi langsung menindaklanjuti dengan mengamankan tersangka,” jelasnya.

Atas perbuatannya, Lo dijerat pasal 82 UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi UU.

“Ancaman minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun penjara,” tutupnya.

%d blogger menyukai ini: