Gas Elpiji 3 Kg di Samarinda Langka, Ini Penyebabnya

selisik
3 Min Read

Samarinda – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali terjadi di Samarinda. Meski momen hari besar keagamaan telah berlalu, fenomena kelangkaan gas bersubsidi itu masih kerap terjadi pada waktu-waktu tertentu.

Melansir Kaltimpost.id, untuk menekan harga yang melonjak tinggi di pasaran, Pemkot Samarinda melalui Dinas Perdagangan (Disdag) menggelar operasi pasar. Pasalnya, harga gas melon di lapangan sudah menyentuh angka Rp 50 ribu per tabung, jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani menjelaskan, persoalan kelangkaan elpiji 3 kg sejatinya bukan disebabkan kuota yang disediakan. Permasalahan utamanya justru muncul dari ketidaktepatan distribusi gas subsidi oleh kelompok yang seharusnya tidak berhak.

BACA JUGA:  Penjualan LPG 3 Kg Diklaim Kembali Normal

“Kalau dari sisi kebutuhan masyarakat, sebenarnya cukup. Tapi lihat saja tulisan di tabungnya, jelas tertulis ‘Hanya untuk Masyarakat Miskin’. Namun, banyak warga mampu dan usaha katering besar juga ikut membeli,” beber Nurrahmani, Minggu (15/6), dikutip Kaltimpost.id.

Fenomena itu memicu hukum ekonomi berjalan liar. Permintaan yang melebihi kuota akhirnya mendorong harga melambung tak terkendali. Untuk itu, pihaknya menegaskan bahwa operasi pasar yang digelar bukan program pasar murah, melainkan pengendalian harga sesuai aturan.

“Harga tetap mengacu pada harga eceran tertinggi, yaitu Rp 18 ribu per tabung,” tegasnya.

BACA JUGA:  Kuota Gas Elpiji 3 Kg untuk Bontang Dipastikan Cukup Sampai Akhir Tahun

Usai operasi pasar, Pemkot Samarinda berencana duduk bersama dengan Pertamina, agen, dan pangkalan untuk mengevaluasi distribusi elpiji subsidi agar benar-benar tepat sasaran.

“Kami butuh komitmen bersama semua pihak. Agar distribusi LPG subsidi ini benar-benar tepat sasaran,” tegasnya.

Untuk meminimalisir penyimpangan, Nurrahmani mengusulkan adanya dua skema harga elpiji 3 kg. Ide itu didasarkan pada fenomena bahwa sebagian masyarakat memilih gas 3 kg bukan semata karena harganya murah, melainkan karena kepraktisannya.

“Banyak yang memilih karena praktis. Kalau memang praktis yang dicari, kenapa tidak dibuat tabung yang sama untuk nonsubsidi. Misalnya subsidi tetap Rp 18 ribu, sementara nonsubsidi Rp 35 ribu. Dengan begitu, masyarakat mampu tetap bisa membeli tanpa mengganggu kuota subsidi,” paparnya.

BACA JUGA:  Puluhan Pelaku Usaha di Bontang Ketahuan Pakai LPG 3 Kg

Pada bagian lain, seorang warga Kecamatan Samarinda Ilir, Lis, mengaku sangat terbantu dengan adanya operasi pasar ini. Dia mengatakan, harga gas melon di pasaran liar kini jauh melampaui harga resmi.

“Kalau di operasi pasar saya beli Rp 18 ribu, pakai surat pengantar dari pangkalan. Tapi di luar, harganya bisa sampai Rp 50 ribu per tabung. Banyak yang jual segitu,” keluhnya.

TAGGED:
Share This Article