Air Bersih Kian Terbatas Saat Kemarau, Dinkes Kaltim Ingatkan Ancaman Penyakit

selisik
2 Min Read

Samarinda – Musim kemarau yang berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) tidak hanya berdampak pada keterbatasan sumber air bersih, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Jaya Mualimin, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyakit yang berkaitan dengan kualitas air dan sanitasi lingkungan selama musim kemarau.

Menurut Jaya, keterbatasan sumber air membuat masyarakat memanfaatkan sumber yang tersedia secara bersama-sama. Kondisi tersebut membuka peluang sumber air tercemar, termasuk oleh kotoran maupun urine hewan.

“Kalau kekeringan, sumber air itu sangat terbatas. Kebutuhan air masyarakat menjadi kebutuhan utama. Sumber-sumber air itu akan didatangi bukan hanya manusia, melainkan juga binatang, sehingga bisa menjadi media penyakit menular, misalnya diare,” kata Jaya di Samarinda.

BACA JUGA:  381 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, Kabupaten Paser Paling Banyak

Kondisi tersebut juga membuat penyimpanan air menjadi hal yang perlu diperhatikan. Air yang disimpan tanpa pengelolaan dan kebersihan yang baik berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.

Dinkes Kaltim mengingatkan masyarakat untuk memastikan air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari berada dalam kondisi bersih dan aman. Air yang dikonsumsi juga diminta dimasak hingga mendidih.

Selain diare dan gangguan pada kulit, Jaya meminta masyarakat mewaspadai leptospirosis. Penyakit tersebut merupakan penyakit bakteri yang dapat ditularkan melalui urine tikus.

BACA JUGA:  Kaltim Siaga Karhutla dan Kekeringan, Kasus ISPA Tembus 236 Ribu

“Penyakit leptospirosis yang disebabkan karena kencing tikus juga perlu diwaspadai. Salah satu gejala penyertanya yang banyak ditemui juga bisa berupa diare,” ujarnya.

Untuk mencegah risiko penyakit akibat air dan lingkungan, Dinkes Kaltim terus melakukan sosialisasi mengenai mitigasi dampak penggunaan air tercemar.

Masyarakat juga diminta memperhatikan kebersihan tempat penampungan air agar tidak menjadi sumber pencemaran maupun sarang kuman.

Di sisi lain, dampak musim kemarau terhadap kesehatan juga berkaitan dengan kondisi udara. Udara yang lebih kering membuat debu lebih mudah beterbangan dan berpotensi mengganggu saluran pernapasan.

BACA JUGA:  Karhutla Menggila, Pemerintah Tutup Sementara Pendakian 9 Gunung

Karena itu, masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), mulai dari menjaga kebersihan tubuh, memastikan higienitas air, menjaga sanitasi lingkungan, hingga mengurangi paparan debu.

Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah juga diimbau untuk mengurangi paparan debu selama musim kemarau.

Share This Article