Populasi Orang Utan di Kaltim Diklaim Meningkat

selisik
3 Min Read

Samarinda – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menyatakan, pengelolaan hutan yang lestari pada Bentang Alam Wehea-Kelay di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mampu menaikkan kepadatan orang utan. Sehingga ia mengapresiasi Pemprov mengajak para pihak dalam pembangunan hijau.

“Melalui prinsip pengelolaan hutan secara lestari oleh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) Alam, kini tingkat kepadatan orang utan di bentang alam tersebut meningkat,” ujar Spesialis Konservasi Spesies Terancam Punah dari YKAN Arif Rifqi di Samarinda, dikutip dari Antara, Sabtu (4/3).

Saat ini, katanya, tingkat kepadatan populasi orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay mengalami kenaikan, dari O,204 individu per kilometer persegi (km2) menjadi 0,377 individu per km2, yakni di kawasan yang dikelola PT Karya Lestari.

BACA JUGA:  BKSDA Kaltim Lepas Liarkan Tiga Orangutan di Hutan Lindung Gunung Mesangat

Kemudian pada kawasan hutan alam yang dikelola oleh PT Gunung Gajah Abadi (GGA) pun mengalami peningkatan, yakni dari sebelum dikelola dengan kepadatan 0,671 individu per km2 menjadi 0,808 individu orang utan per km2.

Kepadatan populasi orang utan di PT GGA, katanya, meningkat 17 persen, kemudian di PT Karya Lestari meningkat 46 persen ketimbang empat tahun lalu. Sehingga temuan ini menunjukkan bahwa praktik pengelolaan hutan lestari dalam skala bentang alam bisa menyelamatkan populasi orang utan.

Pemantauan orang utan yang pihaknya lakukan menggunakan metode penghitungan jumlah sarang pada transek tegak lurus (line transect), yakni dengan total pemantauan sebanyak 33 jalur yang tersegmentasi dengan jarak antar-jalur 4 km yang mewakili luas wilayah kajian.

BACA JUGA:  Kaltim Alami Deforestasi Tertinggi di Indonesia pada 2024, Habitat Orang Utan Terancam

Ia menjelaskan, area kelola PT GGA dan PT Karya Lestari merupakan tempat pemantauan populasi orang utan di Bentang Alam Wehea-Kelay.

Hal ini dilakukan karena dua perusahaan tersebut merupakan anggota Forum Pengelolaan Bentang Alam Wehea-Kelay dan telah menerapkan praktik pengelolaan terbaik dalam operasi mereka.

Menurutnya, orang utan merupakan satwa yang dilindungi baik secara nasional maupun global, bahkan tiap 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orang Utan Sedunia.

BACA JUGA:  Jack, Bayi Orang Utan yang Diselamatkan dari Kebun Sawit di Kutim

Orang utan merupakan spesies payung, karena berperan dalam regenerasi hutan dengan menyebarkan biji-bijian pohon yang ia konsumsi, sehingga jika orang utan hilang, maka akan mempengaruhi hilangnya spesies lain di habitat tersebut.

“Orang utan memiliki kemiripan 93 persen dengan DNA manusia, sehingga masih banyak yang dapat dipelajari dari ekologi mereka. Masih banyak hal tentang orang utan yang belum terkuak, masih panjang perjalanan untuk mengupas peranan orang utan bagi kehidupan manusia,” kata Arif.

TAGGED:
Share This Article