Pakar Ungkap Rahasia Anak Cerdas, Ternyata Bisa Dimulai dari Meja Makan

selisik
4 Min Read

Selisik.id – Makan bersama keluarga bukan sekadar kesempatan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Kebiasaan sederhana ini juga dapat menjadi momen penting untuk mendukung perkembangan kecerdasan intelektual dan emosional anak.

Saat makan bersama, anak tidak hanya mendapatkan asupan makanan bergizi, tetapi juga berkesempatan belajar berkomunikasi, mengenali emosi, dan berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya.

Pakar kesehatan masyarakat Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK., menjelaskan, kebiasaan makan bersama keluarga dapat mendukung perkembangan anak melalui tiga aspek utama, yakni nutrisi, stimulasi emosi, dan sosialisasi.

“Ada begitu banyak wisdom yang diberikan Tuhan dari perilaku makan ini. Ketika kita memberlakukan perilaku makan yang baik pada anak, kita bisa nembak sekaligus tiga jalur itu,” kata dr. Ray dalam diskusi bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal”, dikutip dari ANTARA, Jumat (9/10/2026).

Namun, manfaat makan bersama keluarga tidak berhenti pada pemenuhan nutrisi. Interaksi yang terbangun selama makan juga dapat menjadi kesempatan bagi orangtua untuk menstimulasi berbagai kemampuan dasar anak.

Manfaat makan bersama keluarga bagi kecerdasan anak

BACA JUGA:  Bawa Hoki, Ini Lima Buah yang Wajib Ada saat Imlek

Dokter Ray menjelaskan, kebiasaan makan bersama keluarga dapat menjadi bagian dari stimulasi kemampuan motorik, kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak.

Orangtua dapat memanfaatkan waktu makan untuk melibatkan anak dalam aktivitas sederhana, seperti membiarkannya mengambil makanan sendiri sesuai kemampuan, mengajak anak mengobrol, serta merespons celotehan atau pertanyaan yang disampaikan.

Melalui interaksi tersebut, anak berkesempatan melatih kemampuan berkomunikasi dan memahami respons orang lain. Anak juga dapat belajar berbagi dengan anggota keluarga, menunggu giliran, serta mengenali kebiasaan sosial yang berlaku ketika makan bersama.

Menurut dr. Ray, nilai-nilai tersebut dapat dipelajari anak melalui pengamatan terhadap perilaku orang-orang di sekitarnya, terutama ayah, ibu, dan anggota keluarga lainnya.

Dengan demikian, waktu makan dapat menjadi kesempatan bagi orangtua untuk memberikan stimulasi yang mendukung perkembangan anak tanpa harus selalu melalui kegiatan belajar yang terstruktur.

Makan bersama menjadi momen belajar bersosialisasi

Selain mendukung perkembangan kognitif dan emosional, makan bersama keluarga juga memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar bersosialisasi.

BACA JUGA:  Psikolog Sarankan Pasangan Diskusi soal Seksualitas Sebelum Menikah

Psikolog klinis senior Ratih Ibrahim mengatakan, makan bukan hanya proses memenuhi kebutuhan tubuh, melainkan juga peristiwa sosial yang melibatkan interaksi antarmanusia.

“Mengutip sahabat saya Prof. Komaruddin Hidayat, dia bilang makan adalah peristiwa sosial. Jadi bukan cuma makan doang. Makan apa? Bersama siapa? Jumlahnya bagaimana? Itu semua bisa membuat kita happy,” kata Ratih.

Ia menyoroti pentingnya kehadiran orangtua secara utuh ketika makan bersama anak. Menurut dia, perhatian orangtua dapat memengaruhi pengalaman anak selama menjalani kegiatan tersebut.

Sebaliknya, ketika orangtua terlalu sibuk dengan telepon genggam dan tidak terlibat dalam interaksi, kesempatan untuk membangun komunikasi dengan anak bisa berkurang.

Dokter Ray juga mengingatkan bahwa anak cenderung meniru perilaku yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan cara seperti itu, apalagi kalau makan makanan bersama keluarga sambil ngobrol dan tanpa intervensi HP dan tidak ada gadget, maka perilaku ini akan di-copy-paste sama anak,” ujarnya.

Karena itu, orangtua dapat menjadikan waktu makan sebagai kesempatan untuk memberikan contoh perilaku positif, seperti mendengarkan orang lain berbicara, menghargai anggota keluarga, dan berbagi.

BACA JUGA:  Pesan Hotel Lewat Facebook, Turis Ini Tertipu Rp645 Juta

Orangtua dianjurkan membiasakan makan bersama anak

Untuk mendukung kebiasaan tersebut, dr. Ray menyampaikan bahwa Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan orangtua mengupayakan makan bersama anak minimal satu kali sehari di meja makan.

Kebiasaan ini dapat menjadi kesempatan bagi keluarga untuk membangun interaksi secara rutin di tengah kesibukan masing-masing.

Orangtua tidak harus menjadikan waktu makan sebagai sesi belajar khusus. Percakapan sederhana, respons terhadap cerita anak, serta keterlibatan anak dalam kegiatan makan dapat menjadi bagian dari stimulasi sehari-hari.

Hal yang juga perlu diperhatikan adalah suasana makan yang memungkinkan anggota keluarga berinteraksi tanpa terdistraksi perangkat elektronik.

Dengan membiasakan makan bersama, keluarga tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga menghadirkan ruang untuk berkomunikasi, membangun kedekatan, dan mengenalkan nilai-nilai sosial sejak dini.

(Kompas.com)

TAGGED:
Share This Article