Samarinda – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Kalimantan Timur (Kaltim) akan berlangsung dengan durasi yang cenderung lebih panjang. Selain itu, kemarau di Kaltim diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena berpotensi meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Berdasarkan laporan Prediksi Musim Kemarau 2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Kalimantan, mengalami sifat hujan bawah normal selama periode kemarau.
BMKG memprediksi awal musim kemarau di Kaltim umumnya terjadi pada Juni 2026.
Namun, awal musim kemarau tidak berlangsung serentak di seluruh wilayah. Sejumlah daerah diperkirakan baru memasuki musim kemarau pada Juli hingga Agustus 2026.
Secara umum, pola awal kemarau di Kaltim adalah:
– Juni 2026: sebagian wilayah mulai memasuki kemarau
– Juli 2026: sebagian besar wilayah mengalami musim kemarau
– Agustus 2026: wilayah lainnya menyusul.
Pola ini menunjukkan awal musim kemarau di Kaltim relatif lebih lambat dibandingkan wilayah selatan Indonesia seperti Jawa dan Nusa Tenggara.
Selain waktu awal, BMKG juga memprediksi sifat musim kemarau di Kalimantan Timur berada pada kategori bawah normal.
Artinya, jumlah curah hujan selama musim kemarau diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata klimatologis.
Kondisi ini dapat berdampak pada:
– Meningkatnya potensi kekeringan
– Berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah
– Meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini cenderung lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.
Dalam panduannya, BMKG tidak merinci prediksi hingga tingkat kabupaten/kota. Namun, sejumlah wilayah di Kaltim yang memiliki karakteristik lahan hutan, perkebunan, dan sebagian kawasan gambut perlu meningkatkan kewaspadaan.
Wilayah tersebut antara lain:
– Kutai Kartanegara
– Kutai Timur
– Kutai Barat
– Penajam Paser Utara
– Paser
– Berau.
Selain itu, daerah perkotaan seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang juga perlu mengantisipasi dampak penurunan curah hujan.
Masyarakat perlu waspada terkait ketersediaan air dan potensi kebakaran lahan di sekitar wilayah penyangga.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau di Kalimantan Timur terjadi pada Agustus 2026.
Pada periode ini, curah hujan umumnya berada pada titik terendah sehingga kondisi cuaca menjadi lebih kering.
Masyarakat diimbau untuk mulai mengantisipasi dampak musim kemarau sejak dini, terutama di wilayah yang rawan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
(Kompas.com)

