Samarinda – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kalimantan Timur (ESDM Kaltim) menerangkan bahwa penurunan ekspor batu bara Indonesia belakangan ini ternyata tak berdampak pada aktivitas produksi di Kaltim.
“Provinsi ini masih menjadi primadona ekspor batu bara nasional, dengan 67 persen total produksi batu bara Indonesia berasal dari Kaltim,” kata Pengelola Izin Usaha Pertambangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim Daevrie Zulkany, Senin, melansir Antara.
Ia mengungkapkan kondisi produksi batu bara di Kaltim saat ini terbilang masih cukup dinamis. Dampak penurunan ekspor belum terlalu signifikan dirasakan perusahaan pertambangan di wilayah tersebut.
Menurutnya, perihal itu terlihat dari masih banyaknya aktivitas kapal pengangkut batu bara yang melintas di Sungai Mahakam.
“Bahkan, jika kita mengingat kondisi di tahun 2021, ekspor batu bara jauh lebih parah dibandingkan saat ini, bahkan aktivitas di Sungai Mahakam terbilang sepi saat itu. Jadi, perusahaan-perusahaan tambang batu bara saat ini masih cukup optimistis terkait dengan ekspor batu bara mereka,” ujarnya pula.
Daevrie menambahkan, para pengusaha tambang di Kaltim sudah sejak lama bersiap menghadapi tantangan ini dan telah memiliki strategi masing-masing untuk mengatasinya.
Meski begitu, kata dia lagi, biasanya penurunan ekspor batu bara ini akan sedikit berdampak pada perusahaan tambang, seperti pengurangan jam kerja karyawan atau pengurangan aktivitas kegiatan pertambangan.
Terkait potensi industri batu bara di masa mendatang, Daevrie menjelaskan bahwa Dinas ESDM Kaltim telah bersiap dengan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang digalakkan bersama perusahaan-perusahaan tambang batu bara.
“Ketika nanti industri batu bara sudah tidak beroperasi lagi di Kaltim, ada yang diwariskan oleh perusahaan tambang kepada masyarakat Kaltim, seperti aspek kemandirian ekonomi, pelatihan-pelatihan, maupun kebermanfaatan yang bisa dirasakan masyarakat di masa akan datang,” demikian Daevrie.

