Samarinda – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan membuat Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan masyarakat.
Selain asap dari karhutla, kondisi cuaca kering turut meningkatkan paparan debu di sejumlah wilayah perkotaan.
Situasi tersebut disebut berkontribusi terhadap meningkatnya keluhan gangguan saluran pernapasan, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, Kaltim saat ini berada dalam kategori kewaspadaan tinggi akibat ancaman karhutla dan kekeringan.
Menurut dia, sejumlah wilayah menjadi perhatian karena tingginya aktivitas titik api, terutama Kabupaten Berau dan Paser.
“Jadi Kaltim itu masuk dalam kategori risiko tinggi ya, walaupun dari pusat itu tidak masuk pada risiko sangat tinggi. Kita masuk di kategori kewaspadaan tinggi karena titiknya banyak, terutama di Berau dengan di Paser, ya, maka kita menjadi perhatian dari pusat krisis kesehatan nasional, ya,” ungkapnya, Kamis (27/8/2026).
Jaya mengatakan, peningkatan kasus gangguan pernapasan yang terjadi saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan karhutla.
Cuaca kering membuat debu lebih mudah beterbangan, terutama di kawasan perkotaan dengan aktivitas kendaraan dan mobilitas masyarakat yang tinggi.
Kondisi itu turut menjadi perhatian Dinkes Kaltim karena masyarakat terpapar partikel di udara secara terus-menerus.
“Ya, sementara memang meningkat ya. Bukan karena kebakaran hutan, tapi karena kekeringan jadi banyak debu, ya,” imbuhnya.
Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan RI per 22 Agustus 2026 menunjukkan kasus ISPA telah tercatat di seluruh kabupaten/kota di Kaltim.
Balikpapan menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 66.468 kasus. Setelah itu Samarinda dengan 48.230 kasus. Kabupaten Kutai Kartanegara tercatat 29.453 kasus, disusul Paser sebanyak 22.284 kasus dan Kutai Timur 22.032 kasus.
Sementara Berau yang menjadi salah satu wilayah dengan titik api tinggi mencatat 20.549 kasus ISPA.
Daerah lainnya yakni Penajam Paser Utara sebanyak 10.386 kasus, Bontang 7.670 kasus, Kutai Barat 7.562 kasus, dan Mahakam Ulu 1.482 kasus.
Jaya mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap debu sebagai ancaman yang lebih ringan dibandingkan asap karhutla.
Menurutnya, keduanya sama-sama dapat membawa dampak buruk bagi sistem pernapasan karena mengandung berbagai partikel yang dapat masuk ke tubuh melalui udara.
“Kalau ya dua-duanya sebenarnya bahaya, ya. Karena asap itu kan mengurangi apa namanya? cemaran udara, oksigennya kurang kan di sini CO2, gitu, jadi tidak bagus, ya. Sementara debu kan ada kumannya, ada partikel kumannya, virus dan sebagainya, sama–sama bahayanya,” jelasnya.
(Kompas.com)

