Selisik.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat perang suku di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan bertambah menjadi 13 orang. Sebanyak 19 orang lainnya dilaporkan luka-luka.
“Berdasarkan data update terbaru korban perang suku yang meninggal dunia 13 orang,” kata Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini kepada detikcom, Minggu (16/5/2026).
Sementara dari 19 orang luka-luka, tiga orang di antaranya mengalami luka berat. Puluhan korban luka masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RUSD) Wamena.
“Korban luka berat berjumlah tiga orang. Sementara luka ringan berjumlah 16 orang,” katanya.
Pihak kepolisian masih melakukan jumlah bangunan yang dirusak atau dibakar saat perang berlangsung. Namun ratusan warga dilaporkan mengungsi.
“Untuk pengungsi total 789 orang dengan rincian 369 dewasa, 298 anak-anak, 122 lansia. Sementara jumlah berdasarkan jenis kelamin 315 pria dan 476 wanita,” ungkapnya.
Diketahui, bentrokan kali ini melibatkan Suku Pirime (Lanny) dan Suku Kurima (Woma) menggunakan senjata tajam dan panah. Bentrokan awalnya terjadi di Distrik Woma, Jayawijaya pada Kamis (14/5). Namun meluas di sejumlah lokasi di Jayawijaya hingga Jumat (15/5).
Kapolda Papua, Irjen Patrige R Renwarin mengatakan bentrokan dua kelompok warga itu dipicu kasus kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPRD Lanny Jaya. Peristiwa itu terjadi pada 17 Mei 2024 silam.
“Konflik berawal dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat pasca peristiwa kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPR dari Lanny Jaya pada tahun 2024,” kata Irjen Patrige dalam keterangannya, Jumat (15/5).
Patrige belum menjelaskan lebih jauh terkait perkara denda adat yang dimaksud. Namun situasi semakin kompleks setelah mediasi terkait pembayaran denda adat mengalami kebuntuan hingga berujung pada aksi saling serang.
“Tragedi bertambah setelah jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa, yang menyebabkan puluhan warga hanyut dan hilang,” ucapnya.
(detikSulsel)

