Bontang – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Bontang kembali meningkat dalam dua bulan terakhir. Namun, Dinas Kesehatan (Dinkes) Bontang menegaskan kenaikan tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Dinkes Bontang Toetoek Pribadi Ekowati mengatakan, ISPA memiliki banyak faktor penyebab sehingga diperlukan sejumlah indikator untuk memastikan adanya hubungan antara peningkatan kasus dengan paparan asap karhutla.
“Belum tepat kalau langsung menyimpulkan bahwa kasus ISPA di Bontang pasti meningkat akibat karhutla. Hubungan tersebut harus dibuktikan dengan melihat beberapa indikator secara bersamaan,” jelas Toetoek, Rabu (2/9).
Data Dinkes Bontang menunjukkan kasus ISPA sepanjang awal 2026 sempat mengalami tren penurunan. Pada Januari tercatat 2.493 kasus, kemudian turun menjadi 2.105 kasus pada Februari dan 1.872 kasus pada Maret.
Penurunan berlanjut pada April dengan 1.845 kasus dan mencapai titik terendah pada Mei sebanyak 1.587 kasus.
Namun, memasuki Juni, jumlah kasus kembali meningkat menjadi 1.857 kasus atau bertambah 270 kasus dibandingkan Mei. Kenaikan masih berlanjut pada Juli, dengan total 1.880 kasus atau bertambah 23 kasus dari bulan sebelumnya.
Menurut Toetoek, kenaikan kasus tersebut belum cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan karhutla sebagai penyebabnya.
“ISPA memiliki banyak faktor penyebab, bukan hanya asap karhutla,” tegasnya.
Ia menjelaskan, indikasi dampak karhutla terhadap peningkatan ISPA akan lebih kuat apabila dalam kurun waktu sekitar tiga hingga tujuh hari terjadi kebakaran, kualitas udara memburuk secara signifikan, dan pada waktu yang sama terjadi peningkatan kunjungan pasien ISPA.
Kondisi tersebut juga perlu dilihat berdasarkan wilayah yang berada dalam arah sebaran asap.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan Dinkes, kondisi udara di Bontang sejauh ini belum menunjukkan dampak buruk yang signifikan akibat kiriman asap karhutla lintas wilayah.
Meski demikian, kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan mengingat kondisi kemarau dan kejadian karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.
Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara mulai berasap atau jarak pandang menurun. Warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker dan memperbanyak minum air.
“Masker, memperbanyak minum air, dan tutup ventilasi rumah apabila asap mulai masuk,” tegasnya.
Berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA pada Juli paling banyak ditemukan pada kelompok dewasa dengan 867 kasus. Selanjutnya balita 443 kasus, anak-anak 256 kasus, remaja 207 kasus, dan lansia 107 kasus.
Dinkes tetap memberikan perhatian khusus kepada balita dan lansia yang lebih rentan mengalami dampak gangguan pernapasan.
Masyarakat juga diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas berat, napas sangat cepat, nyeri dada, maupun kondisi tubuh dan kesadaran yang memburuk.
“Terkhusus balita dan lansia yang lebih rentan. Jangan tunggu kondisi memburuk baru mencari pertolongan medis,” tandasnya.

