Anggota TNI yang Tendang Suporter Arema Saat Tragedi Kanjuruhan Minta Maaf

Selisik.id – Anggota TNI Angkatan Darat (TNI AD) yang menendang suporter saat tragedi Kanjuruhan, Malang, meminta maaf kepada keluarga korban.

Momen permintaan maaf itu terekam dalam sebuah video yang beredar di media sosial. Saat dikonfirmasi soal video permintaan maaf itu, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Kolonel Arh Hamim Tohari membenarkannya.

“Betul, memang sudah minta maaf,” kata Hamim seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Rabu (5/10).

Berdasarkan video yang beredar, anggota TNI itu mengaku khilaf atas tindakannya. Ia menyampaikan hal itu di depan keluarga korban. Anggota TNI itu terlihat didampingi oleh seorang anggota TNI lainnya.

Adapun keluarga korban, menyesalkan tindakan yang dilakukan anggota TNI itu.

BACA JUGA:  PSSI Tinjau Ulang Pertandingan Malam Usai Tragedi Kanjuruhan

“Kalau anak saya emang salah, kalau dia ngerusak, ngerusuh, saya enggak papa, beneran, tapi posisi anak saya enggak ngapa-ngapain. Saya yang menyesali itu,” kata perempuan dalam video itu.

“Tapi insya Allah dimaafkan ya, bu?” tanya anggota lainnya.

“Iya kalau udah gini ya dimaafkan, karena udah ketemu langsung,” ucap perempuan itu lagi.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa mengatakan pihaknya telah memeriksa lima orang prajurit terkait tragedi Kanjuruhan.

Andika berkata empat orang di antara prajurit yang diperiksa berpangkat sersan dua. Adapun satu orang lainnya berpangkat prajurit satu.

“Sejauh ini prajurit yang sudah kita periksa ada lima, periksa ini karena sudah ada bukti awal. Dari lima ini, sudah empat mengakui, tapi satu belum, tapi kami enggak menyerah,” kata Andika di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (5/10).

BACA JUGA:  Komnas HAM Dalami Dugaan Gas Air Mata yang Kedaluwarsa di Tragedi Kanjuruhan

TNI juga melakukan pemeriksaan terhadap pejabat TNI yang bertanggung jawab atas kejadian. Andika memastikan sanksi untuk prajurit yang terbukti melanggar.

“Ya pasti pasti, sesuai pasalnya minimal ayat 351 KUHP minimal ayat 1, belum lagi nanti KUHP pasal 126 melebihi kewenangannya dalam bertindak. Itu minimal jadi kita pasti terus dan masing-masing pasal ini kan ada ancaman hukumannya,” ujarnya.

%d blogger menyukai ini: