Bontang – Pemerintah Kota Bontang mulai mengkaji rencana pengelolaan air laut menjadi sumber air bersih melalui teknologi desalinasi. Rencana tersebut muncul setelah investor asal China menyampaikan ketertarikannya untuk menanamkan modal dalam pengelolaan air laut di Bontang.
Wali Kota Bontang Neni Moernaeni mengatakan, tawaran investasi tersebut telah disampaikan kepada pemerintah. Investor asal China itu disebut tertarik mengembangkan desalinasi karena sebagian besar wilayah Bontang merupakan lautan.
“Sudah ada yang kirim penawaran. Perusahaan asal China. Mereka tertarik untuk investasi desalinasi. Apalagi Bontang terkenal dengan mayoritas wilayahnya adalah lautan,” ucap Neni.
Menurut Neni, desalinasi menjadi salah satu opsi jangka panjang untuk menyediakan sumber air bersih sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap air bawah tanah atau deep well.
Ia menyebut kondisi air bawah tanah Bontang saat ini masih dalam batas aman. Namun, penggunaan air bawah tanah secara terus-menerus tetap perlu diantisipasi karena dapat berdampak terhadap kondisi tanah.
“Kalau sekarang deep well kita masih dalam batas aman-aman saja, tetapi kan kita harus melakukan giliran, antisipasi, mitigasi. Kalau enggak, kan habis juga,” katanya.
Neni mengatakan, pemerintah terlebih dahulu akan melakukan kajian sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait tawaran investasi tersebut. Kajian itu mencakup kebutuhan anggaran, biaya produksi, perbandingan dengan sumber air yang digunakan saat ini, serta kebutuhan lain dalam pengembangan teknologi desalinasi.
“Sudah saya suruh mengkaji para asisten dan Sekda. Setelah itu kita panggil investornya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, desalinasi diproyeksikan sebagai solusi jangka panjang. Pemerintah akan meminta investor memaparkan rencana pengelolaan air laut tersebut setelah kajian dari jajaran Pemkot Bontang selesai dilakukan.
“Coba saja dihitung, per hari bisa 10 juta kubik yang dipakai. Nah, desalinasi ini jangka panjang. Ini kita akan panggil investor untuk memaparkan rencana mereka,” sambung Neni.
Sembari mencari sumber air alternatif, Pemkot Bontang juga melakukan sejumlah langkah untuk menjaga ketersediaan air selama kemarau panjang. Salah satunya dengan menjaga daerah resapan melalui penggalakan penanaman pohon dan mempertahankan ruang terbuka hijau dengan target lebih dari 30 persen.
Di sisi lain, Perumda Air Minum menerapkan sistem penggiliran distribusi air untuk mengantisipasi berkurangnya pasokan. Kondisi tersebut dilakukan setelah pasokan air disebut mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen.
Neni menegaskan, sistem penggiliran menjadi langkah mitigasi agar penggunaan cadangan air bawah tanah tidak berlebihan selama kemarau masih berlangsung.

