Harga Minyak Dunia Kembali Meroket di Tengah Memanasnya Konflik AS-Iran

selisik
3 Min Read

Selisik.id – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (15/7), setelah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas.

Kenaikan dipicu keputusan Presiden Donald Trump memberlakukan kembali blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran, serta serangan balasan Teheran ke infrastruktur militer AS di kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent naik US$1,46 atau 1,72 persen menjadi US$86,19 per barel pada awal perdagangan. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,11 atau 1,4 persen menjadi US$80,40 per barel.

Penguatan tersebut melanjutkan reli pada sesi sebelumnya. Brent dan WTI sama-sama ditutup di level tertinggi sejak pertengahan Juni, setelah sehari sebelumnya harga minyak melonjak sekitar 2 persen ke posisi tertinggi dalam satu bulan.

BACA JUGA:  Kurang dari 2 Jam Jelang Serangan, Trump Tiba-Tiba Pilih Damai dengan Iran

Kenaikan harga dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum pecahnya konflik.

Militer AS pada Rabu dini hari kembali melancarkan serangan ke Iran. Washington menyebut operasi tersebut ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Iran menyatakan kembali menutup Selat Hormuz setelah konflik dengan AS kembali pecah pekan lalu, sekaligus memperburuk gencatan senjata yang telah disepakati kedua negara pada Juni lalu.

BACA JUGA:  Potensi Migas Kaltim Bertambah, 13 Sumur Baru Ditemukan di Samboja

Trump juga mengisyaratkan fasilitas energi Iran dapat menjadi sasaran serangan berikutnya.

“Saya akan menyimpan target energi untuk yang terakhir, tetapi pada akhirnya kami akan menyerang target-target energi,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Sebagai balasan, militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan pesawat nirawak ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania.

Sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menyerang fasilitas penyimpanan senjata di Bahrain dan Kuwait, meski laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Kepala Analis Pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan eskalasi konflik meningkatkan peluang harga minyak kembali mendekati US$100 per barel apabila infrastruktur energi di kawasan Teluk mengalami kerusakan.

BACA JUGA:  Iran Tantang Trump Kirim Kapal Perang ke Teluk Persia

“Jika eskalasi terus berlanjut hingga merusak infrastruktur energi di kawasan Teluk, peluang harga minyak kembali menuju US$100 per barel dalam waktu dekat masih cukup besar,” jelasnya.

Meski demikian, Waterer menilai harga Brent masih berpotensi bertahan di kisaran US$75 hingga US$80 per barel apabila jalur diplomasi berhasil membuka kembali Selat Hormuz.

(CNNIndonesia.com)

Share This Article