Selisik.id – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (6/1/2026) mengumumkan, Venezuela akan menyerahkan 30-50 juta barrel minyak mentah kepada Washington.
Menurut Wall Street Journal, minyak-minyak yang terkena sanksi itu akan dijual sesuai harga pasar, dan uang hasil penjualannya diatur langsung oleh Trump untuk kepentingan rakyat kedua negara.
Dengan asumsi harga minyak sekitar 56 dollar AS (Rp 938.000) per barrel, volume 30–50 juta barrel diperkirakan bernilai hingga sekitar 2,8 miliar dollar AS (Rp 47 triliun).
Presiden ke-47 AS tersebut tidak merinci mekanismenya, tetapi transaksi ini diharapkan memenuhi sebagian kebutuhan energi Amerika, serta membantu mengurangi cadangan minyak Venezuela yang tertahan akibat sanksi dan blokade, sebagaimana dilaporkan Fox 5 New York.
Trump juga mengatakan, Menteri Energi AS Chris Wright telah diarahkan untuk melaksanakan rencana ini. Minyak diangkut menggunakan kapal penyimpanan dan dibawa langsung ke pelabuhan di AS.
Pernyataan itu merupakan penjelasan terlengkap sejauh ini terkait bagaimana Trump akan memenuhi janjinya mengekstrak minyak dari Venezuela, meskipun masih terdapat sejumlah pertanyaan yang belum terjawab.
“Negeri Paman Sam” mengonsumsi sekitar 20 juta barrel minyak dan produk turunannya setiap hari, sehingga kiriman dari Venezuela akan setara pasokan selama 2,5 hari, menurut data dari Badan Informasi Energi AS yang dikutip Associated Press.
Kendati Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbukti (proven oil) terbesar di dunia, negara tersebut hanya memproduksi rata-rata sekitar satu juta barrel per hari.
Angka ini masih jauh di bawah produksi harian Amerika yang mencapai 13,9 juta barrel per hari pada Oktober 2025.
Secara terpisah, Gedung Putih juga menjadwalkan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak pada Jumat (9/1/2026) di Ruang Oval untuk membahas Venezuela.
Pertemuan itu akan dihadiri perwakilan dari Exxon, Chevron, dan ConocoPhillips, menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, tetapi meminta identitasnya dirahasiakan.
Sementara itu, Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez menolak pernyataan Trump yang sebelumnya memperingatkan, ia akan menghadapi hasil lebih buruk dari Maduro apabila tidak melakukan hal yang benar, dan mengarahkan Venezuela sejalan dengan kepentingan AS.
Trump juga menyatakan, pemerintahannya kini akan menjalankan kebijakan Venezuela, serta mendorong para pemimpin negara itu membuka akses terhadap cadangan minyaknya yang besar bagi perusahaan-perusahaan energi Amerika.
Dalam pidatonya pada Selasa (6/1/2026) di hadapan pejabat sektor pertanian dan industri, Rodriguez mengatakan, “Secara pribadi, kepada mereka yang mengancam saya: Nasib saya tidak ditentukan oleh mereka, tetapi oleh Tuhan.”
Di sisi lain, Jaksa Agung Venezuela Tarek William Saab menyampaikan bahwa secara keseluruhan puluhan petugas dan warga sipil tewas dalam serangan AS di Caracas.
Ia menambahkan bahwa pihak kejaksaan akan menyelidiki kematian tersebut, yang ia sebut sebagai bentuk kejahatan perang.
Namun, Saab tidak menyebutkan secara spesifik apakah korban yang dimaksud adalah warga Venezuela.
(Kompas.com)

