Bontang – Rencana pembukaan rute pelayaran baru yang menghubungkan Bontang dengan Mamuju, Sulawesi Barat, kian menunjukkan progres konkret. Pemerintah Kota Bontang memastikan proses teknis bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) terus dimatangkan, bahkan ditargetkan bisa direalisasikan dalam tahun ini.
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengungkapkan bahwa secara prinsip, pihak ASDP telah menyatakan dukungan terhadap pembukaan rute tersebut. Saat ini, fokus pembahasan berada pada penghitungan ulang kajian, khususnya terkait beban biaya operasional.
“ASDP pada prinsipnya sangat setuju. Tinggal menghitung ulang kajian yang sudah ada, terutama terkait beban biaya operasional,” ujarnya.
Ia menyebutkan, hasil penghitungan ulang tersebut ditargetkan rampung dalam waktu dekat. Bahkan, menurutnya, pihak ASDP telah menerima kajian yang diserahkan dan menjanjikan hasilnya akan terbit dalam waktu sepekan.
“Sudah ada BUMN yang berminat. Saya yakin rute ini segera terwujud pada tahun ini,” ucapnya.
Rute Bontang–Mamuju nantinya akan dilayani kapal jenis roll-on/roll-off (roro), yang mampu mengangkut kendaraan sekaligus logistik dalam jumlah besar, dengan kapasitas sekitar 300 hingga 500 penumpang. Kehadiran rute ini dinilai strategis untuk memperlancar distribusi logistik, terutama komoditas kebutuhan pokok dari Sulawesi.
“Kapal roro ini bisa mengangkut kebutuhan pokok seperti beras, kelapa, dan logistik lainnya dari Sulawesi. Ini penting untuk menjaga pasokan di Bontang agar tetap stabil dan tidak memicu inflasi,” jelasnya.
Selain aspek logistik, tingginya mobilitas warga asal Mamuju yang bermukim di Bontang juga menjadi salah satu pertimbangan utama. Pemerintah Kabupaten Mamuju pun disebut telah menyambut positif rencana tersebut, bahkan komunikasi awal telah menghasilkan kesepakatan secara lisan.
“Kami ingin kapal roro. Jadi baik barang maupun penumpang bisa diangkut,” tambahnya.
Meski demikian, kesiapan infrastruktur di Pelabuhan Loktuan masih menjadi pekerjaan rumah. Agus Haris mengakui, sejumlah penyesuaian diperlukan, terutama terkait fasilitas sandar kapal roro. Tim dari ASDP sendiri telah turun langsung melakukan peninjauan lapangan untuk menghitung kebutuhan teknis.
“Tim ASDP sudah turun ke lapangan. Tinggal dihitung kebutuhan penyesuaiannya,” katanya.
Pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan fasilitas dermaga roro. Menurut Agus Haris, pekerjaan tersebut relatif sederhana karena hanya memerlukan pembangunan akses landai berbahan baja agar kendaraan dapat keluar masuk kapal dengan mudah.
“Kan dulu pernah ada tempat labuhnya. Tinggal dibugar saja. Mudah-mudahan di APBD Perubahan bisa dianggarkan. Tinggal baja pelensengan saja,” tuturnya.
Untuk jadwal operasional, skema awal yang tengah dibahas adalah frekuensi pelayaran dua kali dalam sepekan. Namun, keputusan final masih menunggu hasil kajian menyeluruh.
Sementara itu, rencana pembukaan rute lain seperti Bontang–Surabaya untuk sementara belum menjadi prioritas. Hal ini lantaran kebutuhan subsidi yang dinilai cukup besar, mencapai Rp22 miliar.
“Masih cukup berat, jadi kita fokus dulu ke rute Bontang–Mamuju,” pungkasnya.

