Wujudkan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan, DKP3 Gencarkan Sosialisasi

Sosialisasi pangan organik yang bekerja sama dengan DPTPH Kaltim, Kamis (5/9/2019).

SELISIK.ID, Bontang – Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Bontang gencar sosialisasikan pertanian sehat ramah lingkungan pada kelompok tani di Bontang. Itu dilakukan guna mengurangi praktik penggunaan pupuk kimia yang menyebabkan kemerosotan kesuburan tanah dan kandungan bahan organik.

Kabid Ketahanan Pangan DKP3 Bontang Debora Kristiani mengatakan, pertanian organik belakang ini semakin berkembang. Hal itu menunjukkan adanya kesadaran petani dan berbagai pihak yang bergelut di sektor pertanian mengetahui pentingnya kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.

Maka dari itu, pihaknya gencar sosialisasi petani di Bontang. Dengan harapan, semua komoditas baik sayuran atau buah-buahan di Bontang tidak ada lagi yang mengandung bahan kimia.

“Prinsipnya, pertanian sehat ramah lingkungan adalah pertanian yang mempertahankan kesuburan tanah dan produktivitas tanah, menciptakan konservasi tanah, dan mengurangi degradasi tanah,” jelasnya saat memberikan materi dalam sosialisasi yang digelar Dinas Pangan,Tanaman Pangan, dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim di Nyerakat Kiri, Bontang Lestari, Kamis (5/9/2019).

Debora memaparkan, salah satu kunci terciptanya pertanian yang sehat adalah tersedianya tanah yang sehat sehingga akan menghasilkan pangan sehat yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang sehat pula.

“Sedangkan untuk tanah yang sehat adalah tanah yang subur dan produktif, mampu menyangga pertumbuhan tanaman dan bebas dari pencemaran,” tuturnya.

Sementara itu, Kasi Keamanan dan Kelembagaan Pangan DPTPH Kaltim Elly Rosdiana mengatakan, pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia buatan pabrik. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen serta tidak merusak lingkungan.

“Lembaga internasional saja saat ini sudah mengisyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi, kandungan nutrisi tinggi, dan ramah lingkungan,” terang Elly.

Staf Seksi Perlindungan Tanaman DKP3 Bontang, Paestri memaparkan, ada enam kelompok tumbuhan yang memiliki potensi menjadi bahan pestisida nabati. Yakni kelompok tumbuhan insektisida nabati pengendali hama, seperti bengkoang, serai, sirsak, dan srikaya. Kelompok tumbuhan antraktan bisa menyerupai sex pheormon pada serangga betina dan bertugas menarik serangga jantan khususnya hama lalat buah. Seperti daun kemangi dan selasih.
Kelompok tumbuhan rodentisida nabati. Jenis tumbuhan ini sering digunakan sebagai penekan kelahiran dan merancuninya. Contohnya seperti gadung racun.

Kelompok tumbuhan molluskisida nabati. Tumbuhan ini menghasilkan pestisida pengendali hama keong. Contoh tumbuhannya adalah daun sembung dan akar tuba.
Kelompok tumbuhan fungisida nabati. Merupakan kelompok tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan jamur patogenik. Contoh tanamannya adalah cengkeh, daun sirih, sereh, pinang, dan tembakau.

Kelompok tumbuhan pestisida nabati serba guna. Kelebihan kelompok ini tak hanya berfungsi untuk satu jenis, misalnya insektisida saja, tetapi berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskisida, dan nematisida. Kelompok ini yaitu jambu mente, sirih, tembakau, dan nimba.

Dalam acara ini dihadiri 10 kelompok tani berbagai komoditas yang ada di Bontang. Dengan mengirim perwakilan tiga orang. (adv/ver)