Nokia Kurangi Beban Gaji Rp 8 Triliun Setahun

Jakarta – Nokia dilaporkan dalam kurun waktu dua tahun telah memangkas jumlah karyawannya lebih dari 10 ribu orang.

Dengan pengurangan ini, Nokia dapat mengurangi beban tenaga kerja hingga USD 597 juta atau sekitar Rp 8,5 triliun dalam waktu setahun.

Dilansir detiKINET dari Gizchina, Sabtu (13/3/2021) dalam laporan tahunan yang dirilis oleh Nokia terlihat bahwa hampir 5.000 pekerjaan berkurang pada tahun 2019 dan lebih dari 6.000 posisi pekerjaan juga dihilangkan pada tahun 2020.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa Nokia sudah memangkas karyawannya atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan total sebanyak 11.044 karyawan. Dan demikian jumlah karyawan Nokia menjadi 92.039 di mana dalam hitungan persentase karyawan Nokia sudah berkurang 11% hanya dalam waktu dua tahun.

Analisis regional memperlihatkan bahwa angka seluruh karyawan Nokia di seluruh dunia telah menurun. Namun di China yang paling terdampak akan PHK ini. Di mana pada tahun 2020 jumlah karyawan Nokia di China turun 12% menjadi 13.749 orang. Dan sejak tahun 2018 pemangkasan karyawan di China sudah mencapai 3.500 pekerjaan.

Lalu juga jumlah karyawan Nokia di Amerika juga menurun secara signifikan dengan total pengurangan sekitar 9% pada tahun 2020 dan lebih dari 2.800 posisi pekerjaan yang hilang sejak 2018.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami telah menyesuaikan strategi dalam menanggapi tujuan bisnis dan aktivitas bisnis perusahaan, tenaga kerja kami telah berfluktuasi,” kata Nokia dalam pernyataannya.

Namun dalam pernyataan tersebut Nokia enggan menyebutkannya sebagai bentuk PHK namun hanya menyebutkan fluktuasi atau penyesuaian tenaga kerja.

Meski adanya pemangkasan tenaga kerja di Nokia tapi ada kabar baik bagi investor di mana margin keuntungan operasional Nokia meningkat hampir dua kali lipat menjadi 4% pada tahun 2020.

Walaupun meningkat namun penjualan turun 6% menjadi sekitar USD 2,61 miliar atau sekitar Rp 416,5 triliun. Dua tahun lalu, Nokia mengalami kerugian operasional sebesar USD 70 juta atau sekitar Rp 1 triliun.

Pada tahun 2020 bisnis operasional Nokia telah mencapai keuntungan setidaknya USD 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,7 triliun. Namun pencapaian ini tidak cukup baik bagi pemegang saham terutama dalam tiga tahun terakhir Nokia mengalami kerugian sebesar USD 3,6 miliar atau sekitar Rp 51,5 triliun. (detik)