Lebaran, Tidak Ada Kunjungan Tatap Muka di Lapas Bontang

SElISIK.ID, BONTANG – Lapas Kelas II A Bontang meniadakan kunjungan Lebaran kepada warga binaan. Hal ini sebagai upaya menjaga para warga binaan terbebas dari penularan Covid-19.

Kepala Lapas (Kalapas) Kelas II A Bontang Ronny Widiyatmoko melalui Kasi Registrasi Aris Wibowo mengatakan, sejak Bontang dinyatakan status Kejadian Luar biasa (KLB), Lapas sudah melakukan pembatasan.

Pihaknya menggunakan metode video call untuk warga binaan berkomunikasi dengan keluarganya. “Sampai saat ini virus corona belum mereda. Jadi kami alihkan ke layanan via daring saja,” katanya, Senin (18/5).

Dia menuturkan sudah menyiapkan tiga komputer sebagai pengganti kunjungan tatap muka sejak bulan lalu. Kata dia, karena wabah belum berakhir. Pihaknya akan  tetap memberlakukan hal yang sama di Hari Raya Idulfitri 1441 H nanti.

“Syarat kunjungan daring, pihak keluarga harus mendaftar terlebih dahulu,” terangnya.

Keluarga dapat menghubungi nomor telepon yang disediakan dan mengisi biodata mencantumkan nomor KTP hingga nama yang ingin dikunjungi. Nantinya, penerapan penggunaan video call tersebut dengan cara menunggu giliran.

Pihak keluarga akan dihubungi terlebih dahulu sebelum masuk gilirannya. Sehingga kunjungan online masih dapat diatur. “Setelah terdaftar akan dibuatkan jadwal,” katanya.

Dia mengatakan, aturan tersebut harus dilakukan. Mengingat banyaknya warga binaan. Apabila salah satu terjangkit, secara tidak langsung lapas akan menjadi “kuburan” massal. “Harapan kami pihak  keluarga dapat mengerti kondisi ini,” ucapnya.

Aris menyampaikan, untuk pengantaran makan dari pihak keluarga tetap diperbolehkan. Namun, melalui protokol kesehatan yang ketat. Lapas Kelas IIA Bontang menyediakan bilik sterilisasi dan tempat pencucian tangan yang dilengkapi sabun. Pengantar hanya bisa mengantarkan sampai depan ruangan yang telah disediakan.

Untuk diketahui, jumlah warga binaan yang menghuni Lapas Kelas II A Bontang mencapai 952 orang. Sebelumnya telah mencapai 1.078 orang. Dengan adanya pandemi ini, sejak Maret lalu telah dilakukan asimilasi sebanyak 126 orang. (*)

Reporter: Mawan